ketika..
kutapaki tingkatan langit yang berarak
untuk mendongakkan raga atas mimpi yang terjal

ketika...
kucumbui sunyi
untuk kutemukan damai bersama bayangmu

ketika...
kuhitung waktu
tik...tak..tik..tak..
perlahan dan begitu merisaukan
akhirnya engkau pergi bersama detaknya

ketika...
kupendam legamnya gelap
ternyata akupun tak mampu lepas di dalamnya

ketika...
kuramu harapan dalam kenyatan
sesakku berujung dukaku

katakan...
sejauh apalagi usahaku untuk bahagiamu
tidakkah itu terlalu lebih atas mampuku

sekarang...
redamkan amarahmu
dan pergilah jauh dari hidupku...

Tuhanlah menjadi saksi...
betapa perihku tak terbayarkan apapun..


Tabe

__Och@__

Kelvin Hui adalah seorang Web Publishing Businessman (Founder dari ambatch.com & SEO Master), yang berhasil mendapatkan kontrak dengan Yahoo! senilai 20 juta dollar hanya untuk mempromosikan Yahoo! Di Hongkong, Korea, dan Jepang selama tiga tahun!

Yang menarik, manusia ini justru sangat-sangat sederhana dalam berpakaian, tutur katanya sangat halus namun penuh kebijaksanaan yang membuat pemikiran saya berubah 180 derajat tentang keSUKSESan.

SUKSES itu sederhana, SUKSES tidak ada hubungannya dengan menjadi kaya raya, SUKSES itu tidak serumit/serahasia seperti kata Robert Kiyosaki/Tung Desem
Waringin, SUKSES itu tidak perlu dikejar, SUKSES adalah ANDA! Karena keSUKSESan terbesar ada pada diri Anda sendiri...

Bagaimana Anda tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi satu ovum, itu adalah SUKSES pertama Anda!

Bagaimana Anda bisa lahir dengan anggota tubuh yang sempurna tanpa cacat, itulah keSUKSESan Anda yang kedua...

Ketika Anda ke sekolah, bahkan bisa menikmati studi S1 di saat setiap menit ada 10 siswa yang drop out karena tidak mampu bayar SPP, itulah SUKSES Anda yang ketiga...

Ketika Anda bisa bekerja di perusahaan di bilangan segitiga emas, di saat 46 juta orang lainnya menjadi pengangguran, itulah keSUKSESan Anda yang keempat...

Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada tiga juta orang yang mati kelaparan setiap bulannya, itulah keSUKSESan Anda yang kelima...

SUKSES terjadi setiap hari, dan Anda tidak pernah menyadarinya...

Saya sangat tersentuh ketika menonton film "Click!" yang dibintangi oleh Adam Sandler, "family comes first," begitu kata-kata terakhirnya kepada anaknya sebelum ia meninggal...

Saking sibuknya Adam Sandler dalam mengejar keSUKSESan, ia sampai tidak sempat meluangkan waktu untuk anak-istrinya, bahkan tidak sempat menghadiri pemakaman ayahnya, keluarganya berantakan, istrinya yang cantik menceraikannya, dan anaknya tidak mengenal siapa ayahnya...

SUKSES selalu dibiaskan oleh penulis buku laris supaya bukunya bisa terus-menerus menjadi best seller dengan membuat keSUKSESan menjadi suatu hal yang rumit dan sukar diperoleh...

SUKSES tidak melulu soal harta, rumah mewah, mobil sport, jam Rolex, pensiun muda, menjadi pengusaha, punya kolam renang/helikopter, punya istri cantik seperti Donald Trump, resort mewah di Karibia, dll.

Tapi buat saya pribadi yang bisa hidup dengan sangat berkecukupan, saya rasa SUKSES memiliki arti yang berbeda...

SUKSES adalah mencintai dan bangga terhadap diri Anda sendiri, mengerjakan apa yang Anda sukai kapan saja dan di mana saja...

SUKSES sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan, SUKSES sejati adalah menikmati dan bersyukur atas setiap detik kehidupan Anda. Pada saat Anda gembira, Anda gembira sepenuhnya. Pada saat Anda sedih, Anda sedih sepenuhnya, setelah itu Anda harus bersiap lagi menghadapi episode yang baru.

SUKSES sejati adalah hidup benar di jalan Allah, hidup baik, tidak munafik, tidak menipu, apalagi scam, saleh, dan selalu rendah hati.

SUKSES itu tidak lagi menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan, tidak lagi menginginkan kesembuhan ketimbang sakit. SUKSES sejati adalah bisa menerima sepenuhnya kelebihan, keadaan, dan kekurangan Anda apa adanya dengan penuh syukur.

Saya berani berbicara seperti ini, karena hidup yang saya alami adalah seperti roda pedati. Ketika masih mahasiswa, hidup saya begitu nelangsa cuma
mampu makan nasi warteg satu kali sehari dengan menu nasi setengah + sayur gratis + tempe goreng. Tetapi ternyata nikmat makan di warteg kok sama saja bila dibandingkan ketika saya makan di restoran mewah di Amerika...

Saya pernah tidur di kolong langit, beralaskan tanah dan terpal, hujan kehujanan, panas kepanasan. Tetapi ternyata lelapnya saya tidur dulu kok bisa sama saja bila dibandingkan ketika saya tidur di hotel bintang 5 di Jepang...

Saya dulu pulang-pergi ke sekolah jalan kaki sejauh 40 km, memakai baju yang lusuh, tas yang kotor, dan alat tulis seadanya. Datang ke sekolah selalu menjadi bahan tertawaan teman-teman, tetapi kok sama saja enaknya ketika saya dijemput oom saya naik mercy, sama-sama sampai di tujuan ternyata...

Saya pernah diundang bos saya ke rumah barunya, untuk menikmati ruang auditoriumnya. Ada speaker untuk karaoke, ada tape untuk mendengarkan musik, ada home theater... Dia bilang harga speaker Thiel-nya untuk mendengarkan musik saja harganya 400 juta rupiah, saya disuruh mendengarkan waktu beliau memutar musik jazz, memang enak sekali, suara dentingan gelas dan petikan bass-nya bisa terdengar jelas, tapi kok setengah jam di situ, saya bosan juga. Sama nikmatnya dengan mendengarkan musik di komputer sendiri, speakernya cuma seharga 100 ribu rupiah...

Pernahkah Anda menyadari?

Anda sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang. Uang hanyalah alat tukar. Anda sebenarnya membeli rumah dari waktu Anda.

Ya, Anda mungkin harus bekerja siang dan malam untuk membayar KPR selama 15 tahun atau membeli mobil/motor secara kredit selama tiga tahun.

Namun itu semua sebenarnya Anda dapatkan dari membarter waktu Anda sendiri, Anda menjual waktu Anda dari pagi hingga malam hari kepada penawar yang tertinggi, untuk mendapatkan uang agar bisa membeli makanan, membayar pulsa telepon dll...

Aset terbesar Anda bukanlah rumah atau mobil Anda, tetapi diri Anda sendiri.

Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat daripada orang bodoh, karena semakin berharga diri Anda, semakin mahal orang mau membeli waktu Anda...

Itu sebabnya mengapa harga dua jam Robert Kiyosaki untuk berbicara di suatu seminar = 200 juta rupiah, atau harga 2 jam seminar Tung Desem Waringin mencapai 100 juta...

Itu sebabnya mengapa Nike berani membayar Tiger Woods dan Michael Jordan sebesar 200 juta dollar hanya untuk memakai produk Nike. Suatu produk menjadi mahal bukan karena merk-nya, namun karena produk tersebut dipakai oleh siapa...

Itu sebabnya bola basket bekas milik Michael Jordan bisa terjual 80 juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk yang sama bila dijual harganya justru turun...

Hidup ini lucu, kita seperti mengejar fatamorgana. Bila dilihat dari jauh, mungkin kita melihat air di kejauhan, namun ketika kita kejar dengan segenap tenaga dan akhirnya sampai di tujuan, yang kita lihat hanya pantulan sinar matahari saja...

Lucu, bila setelah membaca tulisan di atas, Anda masih mengejar fatamorgana tersebut ketimbang menghabiskan waktu Anda yang sangat berharga untuk sungkem kepada orangtua yang begitu mencintai Anda, memeluk hangat istri Anda, mengatakan "I love you" kepada orang-orang yang Anda cintai: orang tua, istri, anak, dan sahabat-sahabat Anda.

Lakukanlah selagi Anda masih punya waktu, selagi Anda masih sempat, Anda tidak akan pernah tahu kapan Anda akan meninggal, mungkin besok pagi, mungkin nanti malam, karena LIFE IS SO SHORT.

Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan hobi Anda, entah itu bermain bola, memancing, menonton bioskop, minum kopi, makan makanan favorit Anda, berkebun, bermain catur, atau berkaraoke...

" Enjoy your life, because life is so short..."


Tabe'


__Och@__

Aku tak akan pernah bisa membayangkan
Akan bagaimana aku tanpamu
Tanpa senyummu..
Tanpa lembutnya tatapanmu
Tanpa hangatnya pelukmu
Tanpa lugasnya ungkapanmu


Berikan satu alasan
Mengapa aku menjadi gila karenamu
Tiap detik waktuku
Hanya imaji tentangmu yang berkutat dikepalaku
Tiap kata ucapanku
Hanya terurai tentangmu
Tiap gerak langkahku
Sosokmu selalu setia membayangi


Tetapi engkau tahu…
Begitu inginnya aku melepasmu
Karena yang ada hanya kesakitanku
Begitu inginnya aku membencimu
Karena yang ada hanya pertengkaran ego
Begitu inginnya aku lari darimu
Karena aku hanya menyakitinya


Telah lebih dua perputaran masa
Tertulis kisahmu di hidupku
Aku bertahan bersama waktu
Aku bertahan bersama keadaan yang tak mungkin
Jangankan hati jasadpun rela kupertaruhkan


Tetapi..
Kini....
Aku tak ingin lagi...
Aku tak mampu lagi...
Maafkan aku harus pergi…



Tabe

__Och@__

" AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU SEBANYAK 6 KALI "

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.


“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! ” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.

Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kkalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, ” Ada seorang ppenduduk dusun menunggumu di luar sana !” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu.”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit.. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23, Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Thank for All sahabat terbaik..

Tabe'

__Och@__

Aku adalah perempuan, makluk Tuhan yang diciptakan sempurna. Membaca tubuhku, yang bervagina serta berpayudara, yang mengalami periode menstruasi tiap bulan, serta mempunyai kantong rahim yang terbatas usianya. Aku pun menyusui seorang bayi yang dinamai anak. Aku adalah perempuan, gadis kecil yang tumbuh menjadi perawan, perempuan dewasa yang berkeinginan menikah dan mendapat “gelar” istri, Ibu, Bunda, Mama, bahkan Nenek. Fluktuasi fase kehidupan, yang sudah direncanakan sejak masih janin dalam kandungan.

Aku adalah perempuan. Beberapa mitos yang ditemukan dalam realitas tatanan masyarakat tradisional, terkadang membentuk suatu ketidak-adilan. Adanya Maternal, dalam ranah Patriarki, bukan berarti para feminis membenci laki-laki toh sudah terbukti, beberapa feminis sudah dinikahi.
Lagi-lagi, banyaknya kesan “di” pada perempuan, membuat sedikit gerah rasanya bila harus diartikan pasif. Saya, adalah perempuan bugis yang masih konservatif, sempat menolak untuk bersikap pasrah "pada laki-laki, tapi masih saja terbentur beberapa opini dan bentukan tradisi / adat. Lalu, bagaimana "dengan para perempuan Minang, dalam menyikapi hirarki matrilineal yang masih sangat kental.Adakah suatu ketimpangan nantinya, saat si perempuan lebih tua, beberapa nilai material yang berbeda nominal, atau malah, perpaduan dua adat yang sangat berbeda.

Perempuan, menyimpan banyak kejutan. Laki-laki pun mungkin demikian. Pemikiran dan sikap, hirarki yang ditemui dalam realitas masayarakat yang dominan patrilineal, serta anggapan-anggapan yang “menyakitkan”, semoga semakin mempercantik para perempuan. Tidak hanya mewarisi ayu si perempuan, tapi juga cerdas, tanggap, serta paham akan hak dan kewajibannya. Tidak melulu sebagai istri yang siap siaga menyajikan makanan setiap saat, sosok Bunda yang penyayang dan nyaman, ngemong anak-anak meski kenakalan mereka harus berbuntut pengertian dan pemakluman, mencintai suami dengan sabar dan setia, juga menerima dan hormat karena tergiur “pahala”. Baik dan sangat benar, bila menyanggupi dan setuju untuk berperan demikian. Hanya saja, apa yang tidak salah dan tidak benar bila merasa lelah dengan segala kewajiban (bahkan hak). Saya jadi berpikir, mungkinkah ranah patriarki membolehkan suami mencuci, membuatkan secangkir teh atau kopi, lengkap dengan kudapan favorit istri, mengurus rumah tangga dan mengatasi anak-anak yang bandelnya tak kunjung berhenti ? Apakah ranah patriarki membolehkan laki-laki untuk menangis ???

Dan aku adalah perempuan yang diciptakan berpasangan dengan laki-laki.Akupun bersuami, hamil dan melahirkan bersama suami yang berkelamin laki-laki. Sisi feminisku memang sempat protes atas hirarki dan kejahatan ”personal” oleh oknum laki-laki, sempat membenci, sebagai bentuk sikap berhati-hati supaya tidak dikorbankan lagi. Sampai akhirnya, Tuhan memberikan kebahagiaan dari ayah, kakak, dan sahabat dekat yang juga berstatus laki-laki. Bukti lainnya bahwa aku tidak membenci laki-laki, adalah aku sedang berpasangan dengan seorang laki-laki.

Perempuan tidaklah hanya bersifat selebrasi. Lepas dari naluri rumpi or bgosip, logika yang sering berbenturan dengan perasaan yang berlebih, sabar dan setianya dalam mencintai, marah dan ketakutannya yang menjadi “virus feminis”, perempuan tetap cantik, cantik yang dilengkapi oleh nalar, juga sikap dan batin.

MAT HARI KARTINI PEREMPUAN2 PERKASA...


Tabe'

__Och@__

Kutelusuri jejak tak bertepi
Mengungguli rentetan kisah bergaris di lingkaran bumi
Kutemukan sunyi berbincang di tengah langit
Tak ada yang sejati selain diri-Mu
Tak ada yang kekal selain Dzat-Mu


Ilahi..
Ampunkan diri dengan ketinggian hati dan pikirku
Selama jarak tak bertuju enggan hati terbuai dengan kehampaan
Begitu sepi, sendu hingga senyawa dan semesta tak ingin tahu
Hingga terkuak tabir kenistaanku...


Lelah bersulang dengan fatamorgana
Yang berakhir sesak dan pilu
Terkadang letih, terkadang jatuh
Menggunungkan mimpi dalam terjalnya kenyataan


Begitu ingin melepaskan balutan dilema
Yang menghimpit sesak rongga nafasku
Mengapa selalu saja terjadi
Terbuai dalam rasa yang berkepanjangan


Sebutan apa yang pantas untukku
Akankah Ghaffar-Mu
Akankah Rahim-Mu
Akankah Rahman-Mu
Menyeruak dan menyusutkan dosa-dosaku


Kuhadapkan wajahku
Menghadap atas tujuh petala langit
Tuhanku...
Inginku menghadap kembali pada-Mu
Karena jiwa ini telah luruh atas segala kesakitan
Batin ini duka dalam sayatan masa yang tak berpihak
Hingga akhirnya bersemayam dalam tanah yang berongga...


Tabe'

__Och@__

Suatu malam, seorang wanita sedang menunggu di bandara. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk menunggu waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk, sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.

Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua kue yang berada diantara mereka. Wanita tersebut mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si pencuri kue yang berani menghabiskan persediaannya.

Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berfikir kalau aku bukan orang baik sudah ku tonjok dia!

Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separuh kue tersebut, sementara ia memakan yang separuhnya lagi.

Si wanita pun merebut kue itu dan berfikir, Ya ampun orang ini berani sekali, dan dia juga kasar, malah dia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela nafas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh kepada si pencuri kue yang tak tahu terima kasih.

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya yang hampir selesai di bacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget. Di situ ada kantong kuenya, di depan matanya. kok milikku ada di sini, erangnya dengan patah hati, jadi kue tadi adalah miliknya dan dia coba berbagi.
Terlambat untuk meminta maaf, ia tersadar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah si pencuru kue itu.

Dalam hidup ini, kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri/ subjektif serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.

Orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tidak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang bikin masalah, orang lainlah yang pantas diberi pelajaran, padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi.

Padahal kita sendiri yang tidak tahu. Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain, sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya....


Tabe'

__Och@__

Lirik tak bertuan kembali kunyanyikan
Saat sendamu sorak mengumandang digendang hati yang menderu
Kuuntai sajak di diari putih tergambar siluet wajahmu
Kutarik garis senyuman di ungkapan katamu


Aku bahagia bersama mimpi yang terjaga
Aku bahagia dengan lekatnya suara terngiang di telingaku
Ada tawamu, ada katamu, ada nafasmu, ada cintamu…
Membuai diri dalam hamparan laut berpasir putih


Rangkaikan bunga untuku di kota Daeng
Nikmati sunset berdua di Losari
Yakinkan sebentuk keinginan itu menjadi satu dalam langkahmu
Biar tergerak menuju wajah yang mendamaikan hatimu
Engkau anggap aku segala bagimu
Memenuhi rongga nafasmu dan aliran darahmu


Temui aku di timur Jawa
Hantarkan aku tuk pandangi kokohnya Borobudur
Habiskan hari di senjanya Malioboro
Tak lepas genggamanmu erat
Dan berharap..
Suatu saat masa akan berpihak


Selamat menempuh hari-hari
Dalam rutinitas dan keletihanmu
Namun harapku…
Jangan lepaskan aku
Meski dalam alam pikirmu…


Tabe’

__Och@__

Lelakiku adalah orang yang berhati mulia, sangat baik, sosok yang hampir sempurna bagi tiap perempuan yang mendambakan lelaki, aku mencintainya karena kesederhanaan dan ketulusan yang dimilikinya, terasa damai ketika aku bersandar di dadanya, memeluknya dengan kehangatan cinta.

Dua tahun dalam proses pendekatan kami lalui dengan berbagai romansa, tiga tahun berjalan hingga sekarang dalam pernikahan bergelut dalam berjuta persoalan yang dulunya tak terbayangkan, kemudian harus aku akui perasaan lelah mulai menggerogoti, mungkin karena berjumpa dengan persoalan yang selalu sama dan tak pernah terselesaikan, hanya mengambang dan menyisakan pertanyaan dan kegelisahan. Alasan-alasan aku mencintainya dulu kemudian pudar dan menjadi hal yang sebatas kewajiban saja.

Saya seorang wanita yang sensitif dan mudah untuk tersinggung, begitu manja dan merindukan saat-saat romantis seperti perlakuan aktor film yang mencintai kekasihnya dengan sekuntum bunga dan kata-kata indah yang mampu membuat hati wanita melayang, lilin menyala dalam heningnya makan berdua di sudut restoran wah…

Suami aku jauh berbeda dari yang aku harapkan, dia kurang sensitif dan sangat sulit untuk menciptakan suasana romantis dalam perkawinan kami, bahkan di momen berharga kami seperti ulang tahunku atau ulang tahun pernikahan. Dan tiba-tiba semua itu membuat aku berfikir ternyata dia bukan lelaki yang aku idamkan dan ideal di kehidupanku.

Hingga suatu hari saat perasaan murka telah merajai, aku memberanikan diri untuk mengambil keputusan yang tak pernah disangkanya akan aku ajukan. aku memintanya menceraikanku.

Hanya kata “Mengapa?”, yang terlontar dai keterkejutannya.

“Aku begitu lelah, lelah dengan semua persoalan yang mendera kita, aku tidak mampu lagi hidup terus seperti ini denganmu, kamu tidak mampu memberikan ketenangan atas semua kegundahan dihidupku” jawabku dengan suara yang bergetar

Suamiku hanya mampu terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, seolah-olah sedang menyelesaikan tugas kantornya, tetapi ternyata tidak, tatapannya hampa seperti sedang memandangi sesuatu yang tak mampu dijangkau oleh hati dan pikirannya.

Kekecewaanku kemudian semakin bertambah, mengapa dia hanya terdiam, mengapa dia tidak mengungkapkan ketidak setujuannya jika memang dia tidak menginginkan keputusan itu, mengapa dia tidak mengekspresikan perasaannya, apa yang harus aku harapkan dari seseorang yang tak mampu untuk membuat keputusan yang terpenting dihidupnya.

Dan akhirnya suatu malam suamiku bertanya kepadaku, “Apa yang dapat aku lakukan untuk merubah pikiranmu dek?”

Aku hanya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,” Aku punya pertanyaan, jika engkau dapat menemukan jawabannya akan merubah keputusanku

“Seandainya aku memasakkan makanan kesukaanmu, tetapi ternyata dalam makanan itu tak sengaja aku masukkan udang yang tidak engkau sukai karena aku lupa, namun engkau tahu aku telah membuatnya dengan susah payah dan engkau tahu jika makanan itu engkau makan maka engkau akan merasa sakit. Apakah kamu akan tetap memakan makanan itu?

Suamiku hanya termenung dan hanya mampu berkata, ” Aku akan memberikan jawabannya besok.”

Perasaan aku begitu gundah mendengar jawabannya.

Keesokan harinya, saat aku terbangun aku tidak menemukannya di sampingku, diapun tidak ada di rumah, dan aku hanya menemukan layar laptop yang bertuliskan sesuatu, kuperhatikan dengan seksama dan ternyata ada tulisan darinya.

” Ade, aku tidak akan memakan masakan yang ade telah buat itu, tetapi ijinkan aku untuk menjelaskan alasannya.”

Saat membaca pembuka tulisan itu hatiku rasanya hancur, namun kukuatkan untuk terus membacanya

“Ade selalu merasa sakit di perut saat datang bulan, dan aku harus memberikan balsem untuk mengurut perutmu dengan balsem agar kamu merasa nyaman”

“Saat ade tidak beraktifitas dan hanya diam di rumah, aku khawatir kamu akan merasa sepi. akupun berinisiatif untuk membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan mataku agar engkau dapat menonton hal-hal lucu di kehidupan manusia.

” Ade selalu begitu dekat jika telah menulis sesuatu di hadapan monitor, terlalu dekat membaca
buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata ade. Aku harus menjaga matamu agar ketika kita tua nanti, kamu mampu melihatku masih tetap menarik seperti dulu, dan aku masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu.”

“Tanganku akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri losari, menikmati sunset di saat senjanya hari.

Menceritakan warna-warni pelangi yang bersinar begitu cantiknya, secantik wajahmu.

Tetapi Ade, aku tidak akan memakan masakan yang telah engkau buat dengan susah payah, bukan karena tidak ingin tetapi karena aku tahu engkau tidak akan membiarkanku sakit dan aku tak akan mampu melihatmu menangis karena merasa bersalah atas yang telah engkau buat.

“Sayang, aku tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari aku mencintaimu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah saya berikan seperti tanganku, kakiku, mataku tidak cukup buat kamu, aku tidak mampu menahan kamu lagi untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang lebih membahagiakan kamu.”

Tak terasa ada yang tergenang di mataku dan terus jatuh, tetapi aku tetap berusaha untuk terus membacanya.

“Dan sekarang, ade… kamu telah selesai membaca semua alasan-alasanku.

Jika ade puas dengan semua jawaban itu, dan tetap menginginkan aku untuk tetap tinggal bersamamu di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sedari malam berdiri disini menunggu jawaban kamu.”

“Jika ade tidak puas dengan jawabanku itu, biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barang, dan menginap di rumah temanku, aku tidak akan mempersulit hidup kamu de…., Ade harus percaya bahagiamu adalah bahagiaku juga.”

Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah yang tertunduk dan di tangannya menggenggam sekuntum mawar putih dan sekotak tart kesukaanku.

Aku segera memeluknya menangis sejadi-jadinya, dan tak berharap lagi melepaskannya di hidupku.

Kini baru aku sadari, tidak ada seseorang yang mencintaiku lebih dari cintanya..

Cinta adalah peleburan ego dimana tak ada lagi keinginan selain dirinya…

Cinta adalah kesederhanaan…

Tak ada lagi senyum terindah selain senyumannya, serta perihnya luka saat melihat tangisannya

Dan aku sadar..bahwa dialah lelaki yang terindah di hidupku, sekarang, nanti dan selamanya.


Tabe’

__Och@__

Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut. Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan.

Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, "Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata "tolong", setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan "maaf", saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.

Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan "terima kasih" kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan.

Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Direktur berada. Amin."

Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.

Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.

Tiga kata "terimakasih, maaf, dan tolong" adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.

Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.

Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.

Mudah2an 3(tiga) suku kata " Maaf, Tolong dan Terimakasih " bermanfaat bagi kita semua.

Tabe'

__Och@__

Buram cerita di negeri duka...
tatakan ide dalam kotak harapan
menjadi gumpalan sinar
di tengah ketimpangan yang bergejolak

Adakah negeri besar tanpa rentetan kisah tragis
Adakah negeri jaya tanpa derasnya duka terasa

karena dengannya lahir bijak bertuan
meretas insan-insan merdeka
memunculkan jutaan semangat kebangsaan

Tetapi..
haruskah dijejali lagi dengan janji-janji ingkar
atas nama kemanusiaan
tergiur nama, kuasa serta gemulai wanita

Sampai kapan negeri duka terjajah
menjadi budak imprealisme dan budak keserakahan
Tak henti dibohongi dan dikhianati

kapankah kutemui negeri impian
berbalut orang bijak serta peduli dengan kaum jelata
terdidik dalam sejatinya moral
melepas tameng kemunafikan
yang senantiasa bercokol
dalam sudut jiwa manusia rakus harta dan kuasa

Ah...negeri impian

Tabe'

__Och@__

Jelang gempita demokrasi
Tak ayal konvoi atribut identitas berseliweran di bibir kota
Wajah tak bernama pun lahir ke jalan
Bukan karena mereka peduli
Namun selembar dua puluh ribu menjanjikan
Untuk makan sehari..

Ironis..
Tetapi inilah yang terjadi
Alunan panggung politik
Tak serta merta membawa manfaat
Hanya kegundahan untuk generasi yang mulai terkontaminasi
Dengan lekukan dan goyangan amoral
Menjadi hantu dalam bayangan masa depan tunas bangsa

Apa sih yang mereka usung…
Atas nama kemanusiaan ???
Atas nama rakyat ???
Mereka tampil berkoar dalam riuhnya gerak massa
Tetapi…
Atas nama ambisi dan kekuasaan
Mereka tampil disana
Pun ketika mereka naik ke singgasana
Yang ada hanya ketidakpedulian

Bukankah…
Saatnya memikirkan diri sendiri
Tidak mesti
Dimanfaatkan lagi
Oleh mereka yang haus kuasa dan tahta

Tabe’

__Och@__

Ilahi…
Kadang keinginanku yang begitu besar
Membuatku larut dalam arus
Menjadi etalase dalam glamounya dunia
Mengejar hampanya tujuan
Materi, jabatan, pujian,...
Seolah tiada habisnya terkejar

Ilahi..
Seiring kebodohanku
Menciptakanku budak dari silaunya mimpi
Hingga hampir saja waktuku terberi semua
Tanpa tersisihkan untuk menemui-Mu
Tanpa sedikitpun ragaku sujud kepada-Mu

Ilahi...
Tubuh ini begitu lelah..
Jiwa ini rasanya gamang
Nafas ini begitu berat
Aku hanya bisa malu dengan diriku
Begitu sombongnya...
hingga tak pernah berucap syukur atas segala

Aku begitu ingin mencintai-Mu
Lekatkan aku dalam keyakinan atas-Mu
Jangan biarkan rakusnya ego menggerogoti
Kuingin simpuhku tak hanya karena adanya ingin
Namun lahir penuh cinta dan ma’rifat
Dekatkan aku pada-Mu..
Sedekat Engkau mengenalku
Seperti urat nadi dalam tubuhku

Ilahi...
Bukakan jalanku untuk itu
Hanya dengan-Mu tempat memohon dan bersandar
Selalu...dan selalu...


Tabe’

__Och@__

Apa kabar dirimu...
Sajak hati terindah
Kembali kupandangi pigura tua milik kita
Ada kesejukan di matamu
Ada kelembutan di renyah senyummu

Saat terbangun..
Kucoba pandangi langit-langit tak bertuan
Merekam kembali puluhan kisah
Yang ada hanya aku dan dirimu
Kudekap khayal
Kucumbui waktu
Aromamu membuatku mampu bernafas sejenak

Kuurai kembali dalam untaian kata
Dentuman nadi terangkai dalam bahasa
Sosokmu begitu indah dalam imaji
Jangankan setahun…
Seabad takkan sanggup dirimu pudar oleh zaman

Hantarkan aku dalam aliran makna
Tentang kejujuran dan ketulusan
Biar aku mengalir bersamanya
Tanpa melepaskan genggamanmu di hidupku

Tabe’…

__Och@__

Lembayung berarak di langit Jenin
gadis kecil berkerudung senja
terduduk pilu menatap solongsong peluru
menghujam menembus kulit lembut ummi
tubuh lelahnya roboh seketika
dihantam dentuman tank zionis sharon
dia ummi penentang monster Yerussalem

Deru buldozer seakan tak terdengar lagi
diusapnya resapan keringat
berbaur tebaran debu onggokan puing kehidupan
dijejali langkahnya yang tertatih
dalam hiruk pikuk nuansa lirih

Hanya batu kecil memantul pelan
terhempas lunglai di jari kecilnya
matanya nanar, hatinya hancur
begitu ingin membalas kejamnya yahudi
jiwanya telah di rebut paksa oleh Tel Aviv

Alam pun ikut menangis
Seribu duka untuk gadis kecil sepertinya
senandung lirih untuk Palestina
Untuk darah suci tertumpah di firdaus
Untuk jiwa-jiwa yang gugur dalam syahadah " ILLALLAH "


Untuk gadis kecil berkerudung senja


__Och@__

Jhsdghj hsdyh mnkjqwu jkadiu jadkd, hasghwewbsauwyeb shwygdaskwu hsjyywebs
Khsjdajd nhswu jhjahahd hjdahd kaad, bdjaeybsxd jsuyweb cyehwj jakiyckd jdseeybwue
Nsdkjfiurdi abhjuy dkoieorief asdowiuiie jskawiueiabed mjnduay makaskaow eddjauedy

Tak sadarkah kita setiap harinya di waktu yang sama, kita berkali-kali mengucapkan kata-kata yang kita sendiri tak pahami ( seperi bahasa di atas mungkin ), waktu tersebut adalah momen penting kita setiap harinya untuk mengasah hati dan berkomunikasi atas segala keluh kesah kita kepada pemilik segala…
Seberapa sering kita menghadap Sang Khalik dengan ucapan-ucapan yang kita sendiri tidak mengerti maknanya. Gerak spititual kita menujunya jangan sampai menemukan kehampaan.

Shalat sendiri merupakan proses perjalanan spiritual penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Tuhan Semesta Alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat derajat manusia di mata Tuhan untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi dan pengalaman puncak
Betapa asing rasanya seorang yang shalat tetapi tidak paham apa yang dibacanya. Sebab shalat itu sendiri sebuah dialog antara seorang hamba dengan Tuhannya. Shalat itu berarti doa, dan doa itu adalah ungkapan yang diucapkan untuk memohon sesuatu.
Bisakah kita bayangkan ketika kita berdoa memohon sesuatu, sambil mulutnya komat-kamit, namun kita tidak pernah mengerti apa yang kita ucapkan..

Bukankah shalat yang kita tidak mengerti apa yang diucapkan adalah shalat yang hambar?? Sebab semua dialog yang diucapkan itu sama sekali tidak kita pahami. Logika yang wajar bila doa dan dialog yang demikian kurang mendapatkan respon.

Inilah barangkali salah satu faktor mengapa banyak shalat yang kita lakukan ini terasa kurang khusyu' dan kurang meresap. Sebabnya tidak lain adalah karena kita melafazkan sesuatu yang kita sendiri tidak paham maknanya. Dan barangkali pula hal itu juga yang menyebabkan seringkali kita berperilaku yang bertentangan dengan ajaran agama, meski kita sering shalat 5 waktu. Ternyata shalat yang kita lakukan itu tanpa makna, dalam arti kita paham maknanya. Sehingga sulit untuk bisa meresapi prinsip-prinsip yang terkandung dalam bacaan.

Adalah jalan yang paling baik kita belajar untuk mengerti kata demi kata lafaz bacaan shalat kita. Mulai dari takbiratul ihram, doa iftitah, bacaan surat Al-Fatihah, bacaan ayat-ayat Alqur’an, lafaz bacaan tatkala ruku', i'tidal, sujud, duduk antara dua sujud, tahiyat awal dan tahiyat akhir. Tidak lagi lafaz yang hanya di hafal di luar kepala.

__Och@__

Letih…
Tak terperih lagi
Gundah…
Tak terdefenisi bahasa
Air mata telah kering kerontang
Bibir kelu mengungkap tragedi hati

Sakitmu itu tak bermakna
Dibanding sayatan luka yang tertoreh
Dua menit saja…
Mohonku untuk rasa yang membuncah
Biar kucoba menyusun bahasa
Aku butuh dirimu menopang sayapku
Biar tak perih dan bernanah

Aku tak bodoh..
Aku hanya dibodohi rasa
Mataku tertutupi oleh cinta
Ingin rasanya murka…
Tetapi dirimu begitu kupuja

Cukup sekali terkuak noktahmu
Biar kecewaku tak merajai semesta
Aku dan kesendirianku
kini...
Menjadi dominan dalam kenyataan

Biar saja kisah ini
Tersimpan di lembaran merahku
Kurangkum dalam album hidup
Tertoreh jelas namamu di kisahku

Untukku dalam bahagiamu
meski kelak menutup mata
tanpamu di aliran nafasku...


__Och@__

Kehidupan adalah sebuah gulir roda yang tak pernah berhenti bergerak di sepanjang zaman, ada saja episode dari skenario Tuhan yang harus dilewati tanpa perencanaan dan di luar batas perkiraan manusia, aku percaya di setiap perjalanan kehidupan yang dilewati menyimpan berjuta hikmah dan kebaikan yang akan kembali kepada kepentingan diri kita sendiri.
Sebut saja namaku Radit Dirgantara, pria lajang 30 tahun dulunya bekerja sebagai kepala cabang di sebuah perusahaan industri terkemuka di kota Jakarta, kata orang aku pria yang menarik, mapan dan memiliki wibawa. Lahir di keluarga yang cukup terpandang dan sangat mencintai keluarga.
Meski dengan kondisi yang cukup menjanjikan sebagai seorang lelaki, yang memliki banyak peluang untuk memiliki banyak pacar digilai banyak wanita, aku tipikal lelaki yag setia. Dari kuliah sampe sekarang pacarku tidak pernah berganti, tetap sama…
Namanya Winda, kami telah menjalin hubungan yang cukup lama selama 8 tahun…
Hubungan kami telah diketahui dan disetujui oleh keluarga kedua belah pihak, dan saatnya untuk kami membina hubungan yang lebih serius.
Yah…setelah pembicaraan yang serius antara kedua belah pihak, diputuskan kami akan menikah akhir desember, dan untuk meresmikannya kami akan mengadakan acara pertunangan di awal Februari.
Di acara pertunangan kami dihadiri oleh begitu banyak undangan, sungguh yang hadir menjadi tolak ukur penilaian status keluarga kami di mata masyarakat, dan mereka tampak begitu senang dan bangga menghadiri acara pertunangan ini.
Jadi kurang lebih 10 bulan lagi aku dan winda akan menikah, dan itu hari bersejarah yang ditunggu-tunggu oleh keluarga kami dan termasuk juga aku sendiri.
Memasuki bulan Agustus mendekati hari ulang tahunku tepatnya 18 Agustus yang ke-31, aku di kantor sedang meeting dengan beberapa klien untuk suatu proyek daerah, tiba-tiba HP aku bergetar hebat di atas meja, kulirik tetapi tak kuangkat karena yang tercantum nomor yang tidak terdaftar di phone book, semenit berlalu HP aku tetap bergetar dengan nomor yang sama, kuputuskan kuangkat namun sebelumnya memohon ijin kepada klien.
Dengan sedikit agak kesal kuangkat dan kujawab telepon yang sedari tadi bergetar dan menunggu untuk diangkat.
“ ya..haloo..maaf ini siapa yah ?’
“ Maaf menganggu pak, benar dengan pak Radit “ terdengar suara berat di seberang HP
“ Benar, dengan saya sendiri…”
“ Bapak kenal dengan Winda ?”
“ Iya saya kenal, Winda itu tunangan saya calon istri saya, emang kenapa Pak? Dan anda siapa ?” masih dengan perasaan yang kesal bercampur heran..
“ Kami dari pihak kepolisian, kami mau memberitahukan bahwa kami menemukan saudara winda telah tewas di sebuah kamar hotel bersama seorang pria, dan tampaknya winda ini overdosis akibat pemakaian obat-obatan terlarang, bapak silahkan segera kesini untuk memastikan apakah benar yang kami maksud adalah tunangan bapak.”
Seketika dunia serasa runtuh, tubuh saya bergetar dan tak terasa HP yang tadinya berada digenggamanku terjatuh berserakan di lantai.
Tak kupedulikan lagi klien yang sedari tadi menunggu berharap rapat dilanjutkan, dengan setengan berlari, segera kuambil mobil di parkiran dan secepat mungkin memacunya ke arah hotel yang dimaksud…
Setibanya disana, aku tak peduli lagi dengan pandangan orang-orang disekitar, sesegera mungkin aku bergegas memasuki hotel yang telah lebih dahulu ramai di kerumuni banyak orang dan telah diberi batas police line, aku memasuki kamar kamar hotel yang dimaksud dengan tubuh yang gemetar kuhampiri sesosok mayat wanita, kuberanikan diri untuk membukanya dan mencoba menyakinkan diri bahwa yang dimaksud bukan calon istriku Winda. Perlahan kubuka selimut yang menutupi tubuhnya dan aku benar-benar shock ternyata wanita itu benar-benar Winda…
Tuhan tubuhku seperti tak bertenaga, nyawaku rasanya ingin lepas, kutahan tangis, kukuatkan diri…
Seorang Polisi menghampiriku…
“ Anda Pak Radit ?
“ Benar Pak” masih dengan tatapan nanar kujawab pertanyaan polisi itu.
“ Benar anda mengenal mayat ini, dan benar ini adalah Winda”
Lidahku kaku, hatiku hancur, aku tak sanggup berkata apapun. Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaannya.
“ Pak Radit, kami turut prihatin atas kejadian ini, tetapi kami ingin memberitahukan bahwa calon istri anda kami temukan tewas over dosis bersama pria yang kami ketahui bernama Ary, kami menemukannya dalam keadaan tak berpakaian, dan ini baru dugaan dari pihak kami bahwa berdasarkan alat bukti yang kami temukan di TKP, jika sebelumnya mereka berpesta shabu-shabu sebelum melakukan hubungan intim dan akhirnya over dosis karena terlalu berlebih mengkonsumsi shabu-shabu tersebut.
Aku hanya terdiam terpaku, rasanya tak ingin percaya atas apa yang telah kusaksikan dan kudengar…
Pikiranku melayang, masa depanku hancur, sepertinya aku tak mampu lagi berpijak di atas bumi, Winda pergi meninggalkanku dengan cara yang sangat tragis bahkan telah tega menghianati di belakangku…
Di waktu yang sama tiba-tiba seorang wanita muncul, sontak dia berteriak histeris di sampingku saat melihat pria yang tewas bersama Winda, ternyata aku bernasib sama dengannya. Wanita itu juga tunangannya yang parahnya sebulan lagi akan melangsungkan pernikahan, hatinya begitu hancur dan akupun sangat bisa merasakannya.
Begitu cepat informasi ini beredar, apalagi menjadi berita di beberapa media cetak dan muncul dalam berita di tv, hingga akhirnya sampai pula ke telinga keluargaku, orang tuaku begitu terpukul, keluargaku sangat tidak percaya mengetahui yang terjadi, peristiwa inipun menjadi bahan omongan dan gunjingan di tetangga, karena tak tahan mendengar omongan tetangga, ibuku kena serangan jantung berselang seminggu setelah kejadian itu, segera ibu dilarikan ke rumah sakit namun Tuhan berkehendak lain, ibu tak mampu diselamatkan lagi.
Tuhan..rasanya aku tak mampu lagi untuk menghadapi kenyataan, dua wanita yang aku sangat cintai dijemput begitu cepatnya, sepertinya aku tak sanggup hidup lagi, rasanya hidup ini begitu tidak adil, mengapa aku tak diijinkan untuk bahagia…
Selama beberapa bulan aku larut dalam keputus-asaan, dan tenggelam dalam kesedihan yang tak berujung. Mestinya di bulan ini aku telah bersanding di pelaminan dengan Winda, ada ibu yang mendampingiku dengan senyum yang sumringah dan perasaan yang bahagia dan bangga melihat anaknya telah melangkah di kehidupan yang baru, apalagi bersama Winda yang begitu dekat dengan keluargaku terutama ibu…
Tetapi kenyataanya jauh di luar rencana, bahkan begitu memilukan.
Selang waktu berlalu, akhirnya aku memutuskan untuk pamit dari keluargaku, mencoba meninggalkan kota yang menyimpan begitu banyak kenangan yang indah sekaligus memilukan, sebelumnya aku memohon ijin ke keluargaku dan keluarga mantan calon istriku, mereka sangat mengerti dengan kondisiku dan mengijinkan kepergianku, kukuatkan hati mereka dan berharap mereka tetap tetap kuat dan bersabar menjalani kenyataan yang telah terjadi.
Setibanya aku di bandara, tak jauh aku melihat sosok wanita yang tidak asing, dan sepertinya aku pernah melihatnya.
Kucoba mendekatinya, dan yah…aku ingat, dia tunangan dari lelaki yang tewas bersama Winda, dia Nuri…
Tampak wajahnya begitu lesu, tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya, tatapannya kosong seakan terbaca tak ada semangat lagi di kehidupannya dan pastilah akibat peristiwa tragis di bulan itu..
“ maaf, anda Nuri …? Belum selesai pertanyaanku dia kemudian menoleh dan langsung memelukku..
“ Radit…aku harus pergi dari sini, aku tak sanggup lagi mendengar cemoohan orang-orang, aku akan pergi ke Singapura, negara dimana tak satupun yang akan mengenalku, aku sangat malu Radit…
Air matanya tumpah, tubuhnya berguncang hebat, tampaknya dengan melihatku memori peristiwa itu terulang lagi dikepalanya..
Kucoba memeluk erat pundaknya, kutenangkan dia..
“ Sudahlah..lupakan semua, kalau engkau ingin pergi, pergilah sejauh-jauhnya, tetapi ingat, jangan jadikan ini penghalang hidupmu, teruslah melangkah, jangan berbuat tidak adil dengan dirimu sendiri, ada cahaya terang yang menanti di hidupmu, asalkan engkau tidak menyerah dan pasrah, jemputlah bahagiamu yang lain, Tuhan menyanyangi kita dengan menunjukkan bahwa yang diimpikan belum tentu baik untuk kita.
Apalah jadinya jika kita menikah dengan orang yang telah menghianati dan menusuk kita dari belakang. Aku mengerti semua, dan kita berada di posisi yang sama. Kamu tahu Nuri…?, akupun akan pergi dari kota ini, tetapi bukannya lari dari kenyataan dan masa lalu, tetapi menjemput bahagia dan masa depan yang lebih baik…
Kuusap air matanya, kupandangi wajah kelunya, kuyakinkan dia kembali…
“ Ingat tetaplah melangkah, dan janganlah menoleh lagi…”
Kamipun berpisah dan saling menguatkan diri..
Nuri ke Singapura dan menjadi Acoounting di perusahaan advertising. Kabar terakhir yang kudengar dia telah menikah dan mengambil keputusan untuk tetap stay disana bersama suaminya.
Sementara aku sendiri ke Makassar mencoba peruntungan, dan menerima tawaran pekerjaan dari sahabatku mengabdi menjadi seorang dosen di perguruan tinggi swasta, dan sekaligus diterima di salah satu perusahaan kontraktor di daerah itu.
Aku tetap melajang, tetapi aku tak menutup hati dan tetap bermimpi mempunyai keluarga bahagia, yang kelak akan kudapatkan dan itu pasti terbaik dari-Nya.


NB: Titipan cerita kawan lama

__Och@__

Ada baiknya saya harus mengawali tulisan ini dengan meminta maaf kepada pihak yang tidak berkenan membaca atau tidak sejalan dengan pilihan yang oc ambil, meski ada anggapan bahwa ini hanya pembenaran dari pilihan tersebut tetapi ini adalah pilihan sadar yang terbangun. Yang oc kemukakan disini bukanlah sebuah keniscayaan orang harus Golput, akan tetapi menegaskan bahwa jika Golput itu lahir bukanlah sebuah dosa politik, dan sekali lagi ini adalah pilihan…

Golput adalah pilihan terbaik jika itu dilandasi kesadaran bahwa tidak ada pilihan baik yang dapat dipilih. Bukankah lebih baik jika kita tidak menggantungkan kehidupan kita pada segelintir orang diparlemen yang membuat hukum-hukum pesanan pengusaha baik lokal maupun asing sekedar untuk balas jasa atas dana kampanye yang mereka “sumbangkan” di saat moment suksesinya. Jangan sampai kita hanya dijadikan komoditi para politikus oportunis dalam meraih ambisi untuk berkuasa.

Begitu pula citra buruk parpol begitu jelas di mata publik, parpol itu lebih berorientasi pada kekuasaan, seakan berlomba meng-iklankan diri menunjukkan yang terbaik, padahal kenyataan sebenarnya publik telah tahu. Partai-partai yang ada gagal menunjukkan keberpihakan secara konsisten terhadap kepentingan dan nasib rakyat, janji-janji muluk yang dilontarkan semasa kampanye, ternyata tinggallah janji. Usai Pemilu partai cenderung meninggalkan konstituennya dan menyibukkan diri dengan kepentingan partai ketimbang kepentingan masyarakat. Belum lagi praktik money politic dimana keberadaan partai sering hanya dijadikan sebagai kendaraan untuk mencari sumber kekayaan oleh para kadernya, yah…sudah menjadi rahasia umum bahwa aroma uang selalu menyertai proses-proses politik dan jabatan yang selama ini terjadi

Berkaitan dengan Fatwa MUI yang mengharamkan Golput, oc anggap sebagai fatwa yang berlebihan. Bahkan, fatwa tersebut sebenarnya diluar dari bidang tugasnya. Bukankah seharusnya yang dilakukan MUI sebagai panutan umat dapat memberikan evaluasi yang melatarbelakangi munculnya tindakan golput tersebut, tidak malah menghakimi orang yang akan memilih golput.

Oc pikir jika para elit politik ataupun parpol membuktikan kinerjanya dengan berbagai kebijakan untuk mendukung dan memihak masyarakat, tidak malah bersenang-senang menimbun kekayaan negara, terlibat dengan skandal yang memalukan, berhenti bekerja untuk golongan, maka Golput akan tereliminir dengan sendirinya. Akan tetapi faktanya para elit politik yang duduk di singgasana kekuasaannya sampai detik ini tidak bisa menunjukkan keberpihakan pada masyarakat, jika demikian jangan salahkan rakyat antipati dengan yang bernama PEMILU.
Masyarakat sekarang sudah cerdas dan tidak dapat dibohongi lagi…

__Och@__

Dearest

Aku sungguh malu dengan diriku
Tak mampu lagi rasanya
Menangkap ketulusan dalam rongga gerakmu
Hatimu terlalu lapang untuk memaafkan
Meski sejuta salah tlah ku toreh
Mengoyak kepingan kepercayaan yang semakin retak

Lama nian diri ini…
Mematut dalam senjanya kenyataan
Bergolak dalam rintihan hati yang tak terperih
Sementara terpatri kecewa untuk asaku

Demi cinta engkau bertahan
Demi cinta engkau melupakan
Kau ukir namaku dalam pelangi berwarna
Berharap embun kembali sejuk membasahi

Tetapi tunggulah sebentar..
Biarkan aku disini dulu
Memandangi arakan awan mimpiku
Biar letih menemani
Hingga aku tak mampu lagi menatapnya

Dan…
Masihkah ada inginmu menanti ???


__Och@__

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda